Kamis, 21 Januari 2010

Puluhan Ribu Difabel Belum Bisa Mengakses Jaminan Kesehatan

Para difabel (penyandang cacat) di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berjumlah 41.219 orang, hanya sekitar 1000 orang dapat mengakses jaminan pembiayaan kesehatan. Padahal para difabel sangat membutuhkan jaminan kesehatan akibat kondisi fisik yang rentan sakit.

“Para difabel sangat rentan sakit karena kondisi fisik yang berbeda dengan orang normal lainnya, maka kami mengahrap pemerintah untuk sungguh-sungguh menjamin kesehatan bagi mereka,” kata Nurul Saaadah Andriani, direktur SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak) Yogyakarta, Selasa (31/3).

Menurut dia, para difabel mempunyai kebutuhan khusus atas kesehatan karena kecacatannya. Karena kondisinya yang lebih rentan sakit atau terluka dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain.

Baried Wibawa, kepala seksi rehabilitasi penyandang cacat Dinas sosial DI Yogyakarta, mengatakan saat ini pihak dinas baru memberi jaminan hidup bagi para penyandang cacat yang dianggap berat di 3 kabupaten.

Yaitu Gunungkidul 302 orang, bantul 298 orang dan Sleman 234 orang. Mereka mendapatkan sebanyak Rp 300 ribu perbulan karena dianggap tidak bisa melakukan gegiatan sehari-hari akibat cacat berat. Sedangkan kabupaten Kulonprogo dan kota Yogyakarta baru tahap pendataan.

“Mereka mendapatkan jaminan hidup sejak 2007 dari pemerintah pusat (APBN),” kata Baried.

Sedangkan menurut Kusmunatun, kepala Unit Pelaksana Teknis Jaminan Kesehatan Daerah kota Yogyakarta, pihaknya mengalokasikan dana sebesar Rp1,6 miliar untuk para pasien kelompok khusus.

“Kami siap dan menunggu nama dan alamat para pasien dari difabel yang membutuhkan dana pengobatan dengan syarat yang sudah ada, bahkan jika tidak punya KMS (kartu menuju sejahtera) bisa minta rekomendasi dari dinas sosial,” kata Kusminatun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar