Dunia selalu punya banyak cerita tentang difabel. Berbeda latar, berbeda pula
imaji tentang difabel. Jika dalam Yahudi orang difabel diimajikan sebagai
spesies yang tidak layak untuk andil dalam ritual keagamaan.
Sehingga—seagaimana dalam Leviticus—orang pincang, buntung, buta dan kerdil
mengemban “anugrah” kategori sebagai orang kotor. Mereka tidak layak dilibatkan
dalam berbagai ritus, atau sama saja dengan tidak mendapat kasih dan rahmat
Tuhan (Colin, 1997) Atau dalam kitab Matius, Yesus Sang penyelamat, sanggup
menyembuhkan orang lumpuh. Kelumpuhan merupakan situasi penuh dosa, sehingga
saat dosa sudah dibersihkan, sembuh sudah orang tersebut.
St Agustine yang hebat, juga meyakini bahwa difabel mempunyai hubungan erat
dengan ilmu sihir. Demikian dengan apa yang terjadi pada abad 19 belas di
Eropa, difabel selalu saja dihubungkan dengan kekuatan setan. Bahkan perempuan
yang mempunyai anak difabel, dianggap sebagai perseleingkuhan dengan setan atau
main-main dengan ilmu sihir(witchcraft) (Colin, 2001) Agama, untuk kesekian
kalinya kerapkali mempunyai keculasan. Marthin Luther yang pembrani dan
rasionalis juga menyokong dan memproklamasikan pembunuhan bayi-bayi
(infanticide) difabel Dan sekali lagi, ini erat hubungannya dengan kategori
difabel yang dianggap sebagai “titisan setan”. (Colin, 1997).
Sebenarnya jika kita beranjak pada tradisi dan modal sosial (social capital)
maysrakat Indonesia. Tak akan kita temukan cerita-cerita tersebut. Sebagai
gambaran jika wayang disepakati seagai replikasi dan imaji masyarakat Jawa,
maka pandu-pandu imaji tentang tubuh dan difabelitas menunjukan keunikan. Lara
Amis atau Durgandini, tubuhnya amis dan kulitnya mengelupas, dia dekat sekali
dengan Dewa. Dia pun seorang anak yang juga seorang difabel yang dibawa dalam
pertapaannya. Anak ini kelak adalah orang sakti. Kita pun disugguhkan dengan
Destarata dan Pandu yang keduanya juga difabel. Destarata buta dan Pandu
dengan wajah pucat aneh, tidak sebagaimana biasa orang.
Punokawan yang merupakan tokoh asli orang Jawa juga merupakan orang difabel.
Gareng yang Pincang, Petruk yang Dungu, Bagong yang gendut dan bermulut lebar,
atau Semar yang bungkuk, bermuka jelek. Namun, tak ada orang Jawa yang
menganggap bahwa mareka adalah orang biasa. Bahkan sebaliknya mereka adalah
orang sakti bahkan titisa para Dewa.
Difabelitas sebagai kesaktian juga banyak kita jumpai dalam kehidupan
orang-orang Jawa yang lain. Sebagai missal polowijo yang selalu ada dalam
kerajaan Jawa. Orang-orang aneh: kerdil, “cacat”, dan difabel yang lain,
diperuntukkan untuk memperteguh kesaktian yang diampu oleh sang raja (Anderson,
1990).
Tak heran bila banyak dijumpai berbagai ornamen kebudayaan Jawa, tentang
ritual membisukan diri mengelilingi benteng, tentang Mbah Marijan yang memimpin
aksi bisu, mengelilingi lereng merapi untuk mereda semburan api demi
keselamatan umat manusia. Bisu pun menjadi pilihan, sebab bisu adalah
“ketenangan”, dan kepatuhan pada alam yang menjadi bagian penting pada sistem
kosmologi Jawa.
Lalu cerminan kesaktian difabel dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari. Pentingnya orang difabel untuk impian mendapat nomor togel, doa
orang-orang difabel yang mujarab dan seterusnya. Kesimpulan pun dapat dipugut,
tubuh-tubuh aneh yang dimiliki kaum difabel, tidak selamanya disubordinasi,
namun dalam masyarakat Jawa wujud dan kehadiranya menjadi penting, bahkan
sakti. Dari sini sebenarnya jika kita urai khasanah tradisi, dapat kita format
modal sosial yang bagus untuk mengimplementasikan kesamaan bagi kaum difabel.
Namun kebudayaan selalu mengalami pergeseran. Kesaktian difabel pun redup
karena kehadiran Islam yang menilai difabel sebagai objek moral, yang sangat
bias dengan “ide-ide normalitas”.
Orang-orang difabel kini menjadi tempat berlabuhnya pengecualian berupa ruang
pengasihan dengan adanya “rukhsoh “ (kelonggaran) saat menjalankan ibadah bila
tidak bisa melaksanakan sebagaimana orang normal. Akan tetapi, tetap saja dunia
yang ideal adalah dunia “orang normal”. Jelasnya, tubuh difabel kini dinilai
sebagai sesuatu yang perlu “dikasiani”. Atau lebih tepatnya, tubuh dinilai
secara sosial yang diperuntukkan untuk “orang-orang normal”. Bukan lagi
dipandang secara “supranatural” atau transendental, namun sebagai kelompok
devian.
Modernitas merupakan produk yang belum ditemukan presedennya, demikian kata
Daniel Bell. Negara-bangsa, ilmu pengetahuan, revolusi industri, demokrasi, dan
seterusnya adalah buah dari modernitas yang belum tertandingi. Unsur
difabelitas baru kini pun mulai bertambah. Terutama semenjak pertama kali
orang-orang kulit putih memperkenalkan pengobatan yang bersandar pada dunia
medis yang rasionalis.
Sejak VOC (Verenidge Oost-Indische Compagnie) mengirim para dokter untuk
serdadu-serdadu yang terluka. Secara formal dan sistematis tubuh-tubuh diurus
oleh kuasa medis. Pada tahun 1621 mulailah dibangun berbagai rumah-rumah kecil
khusus untuk pengobatan yang beredar di sekitar benteng-benteng Batavia dimana
kuasa sejati ditancapkan. Kuasa medis semakin kuat dan meneguhkan dirinya sejak
Tuan Walondo H.W Daendels membenahi sistem dan memperluas rumah-rumah medis
bagi militer dengan membentuk jaringan rapi tahun 1808.
Medis menyentuh difabel pun semakin jelas, manakala Professor G.G.K
Raindwardt Tahun 1820 memegang kendali manajerial urusan medis Hindia Belanda.
Rumah sakit untuk sipil atau stadsverbandhuizen mulai dibuka, lebih jauh lagi
di Batavia untuk pertama kalinya stadsverbandhuizen menangani orang yang
mengindap usia renta atau menjadi crippled, sekalipun baru sebatas bagi para
tahanan. (Scortino, 1996 dalam Peter Boomgard, 1996: 24-29). Demikian luka-luka
dan keanehan-keanehan pada tubuh secara diam-diam tidak lagi berhubungan erat
dengan Semar, Petruk, atau Sang Pencipta Surga. Namun bagaimana kemampuan
dokter menata tulang, menjelaskan aliran darah, atau memberikan informasi
tentang virus serta bakteri yang ada dalam tubuh
Tubuh bukan lagi tubuh yang sakti, tapi tubuh yang sakit. Setiap yang sakit
musti disembuhkan. Yang lantas, para dokter, menganalisa kaum difabel yang
mengindap di dalamnya penyakit. Mereka pun dibedah, disuntik, ditata
organ-organnya, jelasnya mereka direhabilitasi, selayaknya rumah yang rusak
akibat gempa.
Panti-asuhan (Nursing house), pusat rehabilitasi dibangun dimana-mana. Bahkan
mereka yang sakit ini juga dkhususkan, karena tidak mungkin bergabung dengan
yang lainnya yang bukan sakit. Untuk itu, lahirlah SLB (Sekolah Luar Biasa),
dibangun untuk memisahkan kaum difabel dari masyarakat.
Tubuh-tubuh difabel pun ditata, disendirikan. Karena sebuah kota selalu
mengimpikan sebuah kerapian, kemudahan, simplfikasi, dan tentu saja kepatuhan.
Foucault, untuk kesekian kalinya memperingatkan kita dengan membedah konsep
govermantality yang berintikan pendisiplinan, kontrol, dan tentu saja berujung
pada pembersihan demi sebuah impian “kota yang normal”.
SLB ibarat kerangkeng (cage) penyucian agar para difabel bisa bersih dari
penyakit atau “aib” yang dideritanya. Agar difabel mempunyai keahlian khusus:
menjahit, sol sepatu, pijat berijazah, dst, karena hanya dengan ini mereka
dapat menyesuaikan dengan alam “orang normal”. Itu berarti SLB merupakan
wilayah penertiban, pendisiplinan dan penggodokan untuk orang difabel agar
bagaimana mereka mampu mengikuti kehidupan dengan standar kenormalan.
Di Indonesia, kini terdapat 1.084 Sekolah Luar Biasa. Dari jumlah tersebut
680 swasta dan 404 dikelola oleh pemerintah. Sekolah ini berdiri di mana-mana,
dengan tipe dan bentuk yang berbeda-beda. Bahkan banyak diantaranya yang
berdasar bentuk tubuh dan perbedaan kemampuan indera mereka: SLB Tuna Daksa,
SLB Tuna Netra, SLB Tuna Rungu dan seterusnya. Sekolah Luar Biasa mungkin
adalah sekolah yang ingin mengeluarkan mereka menjadi “tidak biasa”.
Dari uraian sederhana ini, kesimpulan kecil pun dapat dipungut. Dunia penuh
dengan kuasa. Kuasa “orang normal” adalah salah satu kuasa yang ‘paling besar’.
Jika postulat perempuan energik Gayatri Spivak “This critical work can be
practiced, not to give the subaltern voice, but to clear the space to allow it
to speak” (Gayatri Spivak, Kilburn, 1996) dapat dibenarkan, maka tentu saja
menjadi tugas bersama untuk melakukan “clearing space” atas kuasa-kuasa
normalitas yang benar-benar sangat akut dan meresap tajam.
Kamis, 21 Januari 2010
Difabel
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar