Dengan disiplin dan pendidikan khusus, para difable sebenarnya bisa mengupayakan kemandirian diri. Selain untuk meningkatkan mobilitas, pendidikan ini juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas.
Kursi roda bisa dikatakan sebagai kebutuhan mutlak bagi para penyandang cacat (difable). Kehadiran fasilitas ini sangat penting, karena bertujuan untuk mendukung dan meningkatkan mobilitas para difable.
Sebagai salah satu alat bantu, kursi roda sebenarnya lebih dari sekadar memudahkan fungsi gerak ke kanan-kiri atau depan-belakang. Keberadaannya sangat mungkin menjadikan kaum difable menjadi produktif melakukan tugas mereka.
Sayangnya, tak banyak difable di Indonesia yang bisa memenuhi harapan itu. Saat ini, kebanyakan dari mereka belum bisa sepenuhnya berharap pada alat bantu yang satu ini. Sebagian besar dari mereka malahan sama sekali tidak memilikinya.
Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO), sebanyak 1,3 juta difable anak Indonesia belum memiliki kursi roda. Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan data yang dikumpulkan pemerintah, yaitu sebanyak 1,2 juta anak.
Bisa dibayangkan, jika difable sejumlah itu belum memiliki kursi roda, artinya anak-anak ini tidak memiliki fasilitas yang mampu menunjang aktivitas mereka, termasuk melakukan kegiatan belajar.
Jumlah ini tentu jauh lebih besar daripada yang memiliki kursi roda, karena harga fasilitas ini hanya bisa dipenuhi oleh kaum yang mampu. Padahal, selama ini para pengguna kursi roda dinilai belum mampu memaksimalkan alat bantu ini. Akhirnya, persoalan mobilitas dan produktivitas kaum difable menjadi terkendala.
Atas pertimbangan itulah maka pada pertengahan Desember 2009,
Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Sudjarwadi secara resmi membuka program Indonesian Kids Wheelchair Training and Empowerment.
Kegiatan ini merupakan kerja sama antara United Cerebral Palsy (UCP) Roda untuk Kemanusiaan dan Yayasan UGM yang bertujuan untuk membantu para difable mengenali kursi rodanya demi meningkatkan produktivitas mereka.
Selama 2 pekan, UCP Roda untuk Kemanusiaan dan Yayasan UGM secara spesifik menjadwalkan sebuah pelatihan kelas intermediate program TOT (Training of Trainer) bagi para fasilitator yang akan bertugas mendampingi difable berkursi roda.
Selain bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan, para fasilitator tersebut juga diproyeksikan untuk mendukung kemandirian para pengguna kursi roda. Seorang ahli Certifeid Rehabilitation Technology Supplier (CRTS) dari Amerika Serikat, Jamie Noon, diundang khusus untuk menjadi trainer.
“Kegiatan TOT ahli CRTS ini yang pertama kali di Indonesia, diikuti oleh 11 fisioterapis dan okupasiterapis.
Setiap peserta training diharapkan bisa lulus dan nantinya akan menjadi pelatih dalam pendistribusian kursi roda yang memenuhi persyaratan anatomi dan postur tubuh yang dikembangkan UCP Roda untuk Kemanusiaan Indonesia,” terang Program Manager UCP Roda untuk Kemanusiaan Indonesia, Risnawati Utami.
Risnawati melanjutkan tujuan dari program tersebut pada dasarnya adalah melatih dan mengasuh pengguna serta memberikan dukungan terus-menerus dan rujukan layanan lain bila diperlukan. Para fasilitator ini diberikan pengetahuan untuk bisa memberikan konsultasi bagi difable untuk mampu memilih produk yang tepat.
Selain bagi fasilitator, ada juga pelatihan yang ditujukan bagi para difable sendiri agar mereka mendapatkan manfaat maksimal dari kursi roda. Lalu ada juga pelatihan bagi pengguna dalam bentuk memberi pertolongan pertama bila mereka terluka atau mengalami komplikasi tertentu.
Mengenal Kursi Roda
Sebuah kursi roda, secara prinsip terdiri dari handel dorong, sandaran punggung, sandaran lengan, bantalan duduk, tempat duduk, rangka, ikat betis, injakan kaki, roda pembantu, rem, ring pendorong, dan roda utama. Namun yang seharusnya diketahui, bahwa setiap kursi roda dirancang sesuai dengan kecacatan yang diderita calon pengguna.
“Selama ini, kursi roda yang sudah ada merupakan produk massal dan disamaratakan untuk semua difable. Padahal sesungguhnya kebutuhan difable itu berbeda-beda. Bahkan penggunaan dari kursi roda lama yang sudah ada ini justru berdampak pada sakit difable yang semakin parah, termasuk menambah cacat karena tidak memenuhi standar dari anatomi dan struktur tubuh,” terang Risnawati.
Hal ini diiyakan seorang penyandang cacat yang ikut serta dalam program ini, Syarwani. Dia menyatakan tadinya tidak mengerti bahwa kursi roda dibedakan menurut penggunanya. “Saya tadinya berpikir bahwa semua kursi roda sama. Tapi dengan pendidikan ini saya jadi tahu bahwa saya butuh kursi roda khusus,” ujarnya.
Sebagai penderita cerebral palsy (CP) atau gangguan kontrol terhadap fungsi motorik tipe spastic (tipe kaku-kaku), Syarwani membutuhkan kursi roda yang memiliki sandaran kepala yang kokoh sekaligus nyaman untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama. Bagi kebanyakan penderita CP, tipe spastic paling banyak ditemukan. Persentasenya sekitar 65 persen dari jumlah keseluruhan pasien CP.
Selain itu, penderita CP juga butuh kursi roda postural, yaitu kursi roda yang dirancang untuk menyempurnakan cara duduk. Sebab duduk yang tidak benar dalam jangka waktu panjang bisa mengakibatkan pengguna mengalami scoliosis (tulang belakang melengkung ke arah samping). Dan tulang belakang yang bermasalah bisa memengaruhi kerja jantung dan paru-paru.
Kursi roda bisa dikatakan sebagai kebutuhan mutlak bagi para penyandang cacat (difable). Kehadiran fasilitas ini sangat penting, karena bertujuan untuk mendukung dan meningkatkan mobilitas para difable.
Sebagai salah satu alat bantu, kursi roda sebenarnya lebih dari sekadar memudahkan fungsi gerak ke kanan-kiri atau depan-belakang. Keberadaannya sangat mungkin menjadikan kaum difable menjadi produktif melakukan tugas mereka.
Sayangnya, tak banyak difable di Indonesia yang bisa memenuhi harapan itu. Saat ini, kebanyakan dari mereka belum bisa sepenuhnya berharap pada alat bantu yang satu ini. Sebagian besar dari mereka malahan sama sekali tidak memilikinya.
Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO), sebanyak 1,3 juta difable anak Indonesia belum memiliki kursi roda. Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan data yang dikumpulkan pemerintah, yaitu sebanyak 1,2 juta anak.
Bisa dibayangkan, jika difable sejumlah itu belum memiliki kursi roda, artinya anak-anak ini tidak memiliki fasilitas yang mampu menunjang aktivitas mereka, termasuk melakukan kegiatan belajar.
Jumlah ini tentu jauh lebih besar daripada yang memiliki kursi roda, karena harga fasilitas ini hanya bisa dipenuhi oleh kaum yang mampu. Padahal, selama ini para pengguna kursi roda dinilai belum mampu memaksimalkan alat bantu ini. Akhirnya, persoalan mobilitas dan produktivitas kaum difable menjadi terkendala.
Atas pertimbangan itulah maka pada pertengahan Desember 2009,
Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Sudjarwadi secara resmi membuka program Indonesian Kids Wheelchair Training and Empowerment.
Kegiatan ini merupakan kerja sama antara United Cerebral Palsy (UCP) Roda untuk Kemanusiaan dan Yayasan UGM yang bertujuan untuk membantu para difable mengenali kursi rodanya demi meningkatkan produktivitas mereka.
Selama 2 pekan, UCP Roda untuk Kemanusiaan dan Yayasan UGM secara spesifik menjadwalkan sebuah pelatihan kelas intermediate program TOT (Training of Trainer) bagi para fasilitator yang akan bertugas mendampingi difable berkursi roda.
Selain bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan, para fasilitator tersebut juga diproyeksikan untuk mendukung kemandirian para pengguna kursi roda. Seorang ahli Certifeid Rehabilitation Technology Supplier (CRTS) dari Amerika Serikat, Jamie Noon, diundang khusus untuk menjadi trainer.
“Kegiatan TOT ahli CRTS ini yang pertama kali di Indonesia, diikuti oleh 11 fisioterapis dan okupasiterapis.
Setiap peserta training diharapkan bisa lulus dan nantinya akan menjadi pelatih dalam pendistribusian kursi roda yang memenuhi persyaratan anatomi dan postur tubuh yang dikembangkan UCP Roda untuk Kemanusiaan Indonesia,” terang Program Manager UCP Roda untuk Kemanusiaan Indonesia, Risnawati Utami.
Risnawati melanjutkan tujuan dari program tersebut pada dasarnya adalah melatih dan mengasuh pengguna serta memberikan dukungan terus-menerus dan rujukan layanan lain bila diperlukan. Para fasilitator ini diberikan pengetahuan untuk bisa memberikan konsultasi bagi difable untuk mampu memilih produk yang tepat.
Selain bagi fasilitator, ada juga pelatihan yang ditujukan bagi para difable sendiri agar mereka mendapatkan manfaat maksimal dari kursi roda. Lalu ada juga pelatihan bagi pengguna dalam bentuk memberi pertolongan pertama bila mereka terluka atau mengalami komplikasi tertentu.
Mengenal Kursi Roda
Sebuah kursi roda, secara prinsip terdiri dari handel dorong, sandaran punggung, sandaran lengan, bantalan duduk, tempat duduk, rangka, ikat betis, injakan kaki, roda pembantu, rem, ring pendorong, dan roda utama. Namun yang seharusnya diketahui, bahwa setiap kursi roda dirancang sesuai dengan kecacatan yang diderita calon pengguna.
“Selama ini, kursi roda yang sudah ada merupakan produk massal dan disamaratakan untuk semua difable. Padahal sesungguhnya kebutuhan difable itu berbeda-beda. Bahkan penggunaan dari kursi roda lama yang sudah ada ini justru berdampak pada sakit difable yang semakin parah, termasuk menambah cacat karena tidak memenuhi standar dari anatomi dan struktur tubuh,” terang Risnawati.
Hal ini diiyakan seorang penyandang cacat yang ikut serta dalam program ini, Syarwani. Dia menyatakan tadinya tidak mengerti bahwa kursi roda dibedakan menurut penggunanya. “Saya tadinya berpikir bahwa semua kursi roda sama. Tapi dengan pendidikan ini saya jadi tahu bahwa saya butuh kursi roda khusus,” ujarnya.
Sebagai penderita cerebral palsy (CP) atau gangguan kontrol terhadap fungsi motorik tipe spastic (tipe kaku-kaku), Syarwani membutuhkan kursi roda yang memiliki sandaran kepala yang kokoh sekaligus nyaman untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama. Bagi kebanyakan penderita CP, tipe spastic paling banyak ditemukan. Persentasenya sekitar 65 persen dari jumlah keseluruhan pasien CP.
Selain itu, penderita CP juga butuh kursi roda postural, yaitu kursi roda yang dirancang untuk menyempurnakan cara duduk. Sebab duduk yang tidak benar dalam jangka waktu panjang bisa mengakibatkan pengguna mengalami scoliosis (tulang belakang melengkung ke arah samping). Dan tulang belakang yang bermasalah bisa memengaruhi kerja jantung dan paru-paru.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar