Hari ini 3 Desember , diperingati sebagai Hari Penyandang Cacat Internasional.
Pada tahun 2006, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyepakati konvensi untuk melindungi hak 650 juta manusia difabel sedunia. Dalam konvensi tersebut, melarang pembatasan kaum difabel dari hak pendidikan, pekerjaan dan politik.
Lalu, saya tertarik dengan istilah difabel itu sendiri. Ternyata, pada tahun 1998 seorang menemukan istilah “difable” dan dipopulerkan oleh beberapa aktivis gerakan penyandang cacat.
”Difable” merupakan singkatan dari Bahasa Inggris yakni Different Ability People. Artinya orang yang berbeda kemampuan.
Sedikit rancu emang, karena pada kenyataannya setiap manusia diciptakan berbeda satu sama lain. Saya, kamu dan kita semua pasti beda. Tidak ada yang sama. Hanya masalah kemampuan yang berbeda. Bukan berarti mereka tidak mampu sama sekali. Mereka (para difable) dalam kenyataannya mampu melakukan apa yang biasa kita lakukan. Hanya saja dengan cara yang berbeda.
Muncul 3kata dalam arti yang serupa. Penyandang Cacat, DIFABEL dan DIFABLE…..
Jadi, istilah difable sendiri ngga sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar. Kalo toh emang difable adalah singkatan dari istilah bahasa Inggis, maka diubah menjadi difabel.
Dan itu terbukti, pencarian di Google, kata “ difabel” itu sekitar 53.400 sedangkan kata” difable “sekitar 34.500. Akan sulit mencari kata “difable” dikamus Bahasa Inggris, dikarenakan emang itu adalah kata yang diciptakan oleh orang Indonesia dan hanya digunakan di Indonesia.
Jadi, apa istilah yang tepat? Seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, istilah ini dalam Bahasa Inggris juga mengalami proses eufemisme (kata yang diperhalus) Istilah yang pertama kali digunakan adalah lame, kemudian diperhalus berturut-turut menjadi crippled, handicapped, disabled, dan terakhir differently-abled.
Contoh lainnya, gelandangan menjadi tuna wisma. Kemudian, pelacur menjadi pekerja seks komersil, dan sekarang menjadi wanita pekerja seks. Ini adalah eufemisme.
Jadi, ingat-ingat: dalam Bahasa Indonesia adalah ‘difabel’, dan terjemahannya dalam Bahasa Inggris adalah ‘differently-abled’, bukan ‘difable’.
Saya jadi inget, sebuah buku yang sedang saya baca. Charlie, seorang dungu yang Jenius. Buku hasil pinjaman ini membuka fakta bahwa temen-temen difabel kadang mengalami sikap yang diskriminatif. Dianggap tidak bisa bekerja, dianggap mengganggu, mengalami diskriminasi dan lain sebagainya.
Di Indonesia sendiri, temen-temen difabel dibutuhkan hanya pada saat ada Pemilihan Umum (sama dengan temen LGBT). Sangat menyedihkan .
Bahkan, ketika Gus Dur memimpin Indonesia , banyak orang yang mencemooh beliau. Konon, lewat pemerintahan Gus Dur ini ada Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN, 2000) sebagai penerapan UU No 4 Tahun 1997 tentang penyandang cacat. Sayangnya, pas Gus Dur udah gag jadi Presiden, gerakan ini gag berlanjut.
Gus Dur sendiri, katanya ga pernah bikin acara seremonial dalam rangka HAPENCA (hari penyandang cacat). Mungkin karena yang terpenting bukan hanya sekedar mengundang para difabel ke Istana Negara, tapi lebih kepada perhatian yang nyata kepada mereka.
Dan menurut yang saya baca, acara seremonial dalam rangka HAPENCA ini hampir sama dari tahun ke tahun. Pidato kenegaraannya juga standard. Memperjuangkan hak pada difabel. Tapi kenyataannya tidak ada bukti nyata sampe sekarang. Mudah-mudahan, setelah mereka bertemu dengan Bapak Boediono , yang menangis ketika menerima temen2 difabel di Istana Negara bisa memberikan bukti nyata untuk memperjuangkan hak , temen2 difabel di Indonesia.
Mari, jadikan Indonesia menjadi negeri yang ramah untuk difabel


Tidak ada komentar:
Posting Komentar